Setetes Embun Kejujuran




Saat itu Ayah, Bunda dan Bin jalan-jalan ke Bandung, dan mampir ke Kartika Sari di Jalan Dago. Sambil makan kue dan minum di salah satu sisi kafe, Obin seperti biasa gak bisa diam. Jalan-jalan di atas kursi, lompat-lompat, manjat-manjat, dan ngumpet di belakang sofa tempat ayah duduk.

"Ayah Obin dapat mainan....", sambil di tangannya menggenggam mainan berbentuk sarung tangan tinju plastik berisi permen kecil warna-warni. Rupanya Bin menemukan di belakang sofa, di dekat pot bunga. Setelah minta diajarain cara memainkannya Obin mulai sibuk dengan mainan barunya. Sebenarnya mainan itu juga dijual di toko itu seharga beberapa ribu perak (sepertinya ada yang membeli dan lalu tertinggal di kafe itu).

Hingga tiba waktunya pulang. "Ayo Bin kita pulang!", kata Bunda. "Mainannya dibawa aja kalau Bin mau", Ayah menimpali.

Tapi Bin bilang, "Enggak... ini punya kakak... Bin mau kembaliin lagi..." sambil berusaha untuk melompat menuju sisi belakang sofa untuk mengembalikan mainan itu di tempat ia menemukannya...

Sejenak ayah termenung... Terimakasih Tuhan... telah kau berikan setetes kejujuran padanya...

"Eeeee... kalau begitu mainanya ditaruh di meja saja deh Bin! Biar nanti kakaknya gampang ngambilnya..."

No comments: