Tukang Pijat

Hari Minggu kemarin, Obin menemukan botol kosong minyak kayu putih dan mulai memainkannya. "Obin mau pijat Ayah!" Lalu dengan gayanya Bin tuangkan minyak ke tangan kecilnya dan menyuruh Ayah,
"Ayah bobo, Obin mau pijat...!"
"O, ada tukang pijat ya?" Akhirnya ayah menjadi korban pertama.

"Ongkosnya berapa, Pak......?", tanya Ayah.
"Setengah ribu."
"Limaratus...?"
"Setengah ribu."  
"Iya deh ini uangnya...", sambil Ayah memberikan beberapa keping uang logam. "Uangnya diaapain Pak...?"
"Ditabung, buat Obin sekolah." kata Bin sambil memasukkan ke dalam celengan tanah-liatnya.

Tapi rupanya Permainan si tukang pijat tidak sampai di situ saja. Bunda, Yayi, Nyai, Uwak juga ditawarin untuk dipijat Bin. Dan ujungnya-ujungnya... "Ongkosnya mana...?"

Dor... dor... dor...!

Akhirnya, setelah berniat tidak memberikan Obin mainan pistol-pistolan, senapan atau sejenisnya, Ayah "membuatkan" dua untuk Bin. Malam itu menjelang Bin bobo, antara terjaga dan bobo, Bin bergumam, namun cukup jelas buat Ayah dan Bunda... "besok kita ke pasar, ya... kita beli pistol-pistolan... buat tembak... dor... dor... dor... zzz... zzzzzzzzz."

Bunda tersenyum. Ayah pikir, kayaknya Obin memang pengen banget mainan itu, sampai-sampai terbawa ke dalam pikiran hingga menjelang bobok.

Pagi harinya ayah ajak Bin. "Bin bikin pistol-pistolan sendiri yuk!"
"Dari apa?", tanya Bin.
"Dari koran, caranya gini... korannya digulung-gulung... abis itu dilipat kayak pistol, atau kayak senapan juga bisa... lalu diselotip. Jadi deh!"

Saat itu juga langsung Bin ambil, dan mulailah... "Dor... dor... dor... dor...", dengan senapan korannya.

Siang hari, ketika mengajak Obin jalan-jalan ke Gramedia, Obin lewat tempat mainan. Terlihat Obin tertarik dengan pistol-pistolan plastik, berusaha mengutak-atik dan memainkannya. Tapi ketika ayah mendekat, Bin bilang, "Obin sekarang sudah punya pistol-pistolan... jadi gak usah beli lagi..." (he he he... padahal sebenarnya masih pengen khan, Bin???)


Kabel-kabel dan Colok-Colok

Entah kenapa Obin tertarik banget sama kabel-kabel dan colok-colok (stop kontak dan saklar). Untungnya untuk kabel yang tersambung dengan listrik,  Obin justru menghindarinya, "takut... ada listriknya..." (baguslah). Untuk hal yang satu ini Obin udah punya kabel bekas, beberapa stop kontak rusak, dan stabilzer rusak juga khusus untuk mainanya. (gampang ya mainan Obin).

Dulu Ayah sering berpikir untuk beliin Obin mobil-mobilan yang banyak atau mainan seperti anak lainnya. Tapi ketika dibeliin paling lama cuma dimainin Obin selama seminggu... ya udah, terserah Bin aja deh.

Saat ini sebenarnya Ayah tahu Obin mau mainan apa :-) Tapi ayah nggak berikan. Bin pengen pistol-pistolan yang bisa bunyi dor... dor... dor...! (seperti cowboy). Bunda juga nggak mau ngasih. Jadi main yang lain aja ya, Bin...


Dongeng Menjelang Bobok

Dongeng yang paling Obin sering minta dari Ayah adalah Kancil dan 'Kiong' (demikian Obin menyebut keong). Sampai-sampai Ayah bosen ngedongengnya (dan bunda mendengarnya). Biasanya Obin paling suka ketika kancil memanggil si keong...
"Keongggg??!!" 
"Kuk!!!", jawab keong.

Kata Bunda, kalau mau bobok sama Bunda, Obin lebih sering minta baca buku cerita daripada dongeng. Atau memilih nonton Tweenies di komputer...

Bunda nambahin:
Sama Bunda, Obin gak mau dongeng, soalnya Bunda gak bisa ngedongeng sih... hihihi... Sekarang ini, selain baca buku dan nonton Tweenies, Obin sebelum bobok juga suka ngobrol dulu sama Bunda. "Bunda, kita ngobrol yuk!", gitu kata OBin :) 


Gambar Bin

Walaupun hanya berupa gores-gores spidol, Bin cukup konsisten dengan gambar-gambarnya. Ada Zebra, wortel, madu, kulkas, kucing, dll.

Komentar Bin

Masak...?
Saat itu Ayah ajak Obin ke proyek, lihat traktor dan jalan-jalan. Tapi kayaknya Obin lebih tertarik lihat selang dan pipa air yang dipakai para tukang mandi. Lalu dengan gayanya Obin tanya ke Ayah,
"Ayah itu pipa buat apa?"
"Itu buat ngalirin air." jawab Ayah.
"Air darimana?" tanya Bin lagi
"Air dari torn air yang ada di atas sana." Ayah menunjuk torn air yang ada di atas.
Tapi apa komentar Bin??? Dengan raut muka serius dan mulut monyong bin bilang... "Masak???"

Ayah gimana sih??? Bunda gimana sih???
Saat itu dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Obin sudah bosen di mobil dan pengen cepat sampai di rumah atau penginapan. Lalu dengan maksud bercanda, Ayah bilang ke Obin kalau kita bakal istirahat di penginapan lagi, soalnya hari sudah menjelang sore dan Obin belum mandi.
"Obin mau pulang ke rumah aja." kata Bin.
Lalu Bunda pun menimpali, "Iya Bin, kita ke penginapan dulu."
Dengan muka cemberut Obin diam saja. Dan saat itu mobil melambat untuk belok ke jalan menuju rumah. Rupanya Obin cukup mengenali lingkungan... dan menggerutu...
"Ayah gimana sih??? Bunda gimana sih??? Ini khan rumah Obin." Kata Obin dengan raut muka serius.
(ha ha ha rasain yah, Bun! :-))

Stop Ayah, Obin tidak suka.......!
Seperti biasa ketika gemes sama Obin kadang-kadang Ayah berpura-pura menjadi... macan... atau beruang... atau kucing... untuk tangkap kambing (Bin) atau lumba-lumba (Bin juga). Sore itu Ayah berpura pura menjadi macan...
"Gerrrrrrrr... Bin ayah jadi macan, mau tangkap kambing..."
Saat itu Bin teriak, "Enggak!!!!" dan berjalan mendekati Ayah dengan tangan terkepal, siap memukul. (sebenarnya nggak sakit sih, tapi hal ini bisa menjadi kebiasaan ketika Bin nggak suka dengan tindakan orang lain.)
Saat itu Ayah tanya ke Bin, "Bin ayah khan nggak pukul Bin. Kenapa Bin mau pukul Ayah? "
Dan Obin pun mulai menangis... (mungkin karena ngantuk juga sih). Saat itu Bin dikasih tahu, kalau Bin nggak suka Obin bilang dong... caranya begini... "Stop Ayah!!! (sambil menggoyang telapak tangan), Obin nggak suka...!!! Nah gitu dong...".

Beberapa saat kemudian iseng-iseng ayah pura-pura jadi macan lagi... "gerrrr, ada macan mau tangkap kambing (Bin)..."
Lalu dengan mantapnya Bin berdiri dan bilang...
"Stop Ayah, Obin nggak suka!!!"
Dan Ayah bilang "Ya ampun!!!!" (seperti Swiper dalam film kartun Dora)

Dalam hati Ayah tertawa lihat Bin, kamu sok jadi anak gede ah Bin... kamu khan masih kecil... ("Enggak, Obin sudah gede, ayah masih kecil..." begitu kadang-kadang komentar Bin). Ah sudahlah... hehehe...


Main Pasir



Obin dulu punya bak pasir di halaman rumah. Besarrr deh. Dibikinin sama ayah. Obin senang main pasir di situ. Menggali-gali dan menuang-nuang pasir. Tapi dulu itu Obin masih suka ngompol, pipisnya belum bisa bilang-bilang. Jadinya pasir Obin sering dipipisin dan akhrinya bau ompol. Akhirnya bak pasir Obin dibongkar deh...



Obin kadang bunda ajak ke sekolah kakak, kalau kebetulan di sana lagi ada acara. Di sekolah kakak ini ada lapangan pasir... besuuaaarr banget. Obin semangat banget kalo main pasir di sekolah kakak, sampe berjam-jam juga tahan. Padahal panas loh...



Bulan lalu Obin jalan-jalan ke pantai di Ancol... Wow, Obin terpesona sama pasir yang buanyaakkk banget...